Ahli Pijat Urut Tunanetra
Najaha Sehat
Melayani pijat urut refleksi, untuk

Klinik ini dikelola oleh
Wan Zul Chairansyah dan Heni Lisna Wati
Telah mengikuti pelatihan massage di PSBN WyataGuna Bandung yang dikelola oleh Departemen Sosial www.depsos.go .id
Tersedia terapis pria dan wanita.
Alamat saat ini :
Jl. Tambakrejo 2 RT/RW 06/02 Kaling 02 Kelurahan Sei Mempura Kecamatan Mempura Kabupaten Siak Propinsi Riau Kode Pos 28671
No HP : 085271388868

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin

Pengumuman :


Bagi yang mengunjungi blog ini lewat
www.kemilaukreasi.com
Segeralah menggunakan URL yang aktif yaitu :
www.najaha.id
Karena pada tanggal
20 Juni 2018
URL kemilaukreasi akan ditutup.
Bagi yang menyimpannya sebagai penanda, silahkan mengubahnya ke URL najaha.

Butuh artikel lain?

Pintu Surga yang Nyata

Nasib manusia dari zaman ke zaman akan berputar mengikuti masa kehidupan di muka bumi.
Dimana dulunya mereka berawal dari sosok janin yang terlindungi oleh rahim, makin bertumbuh kembang menjadi calon manusia baru dan terlahirlah ke dunia.
Dari sinilah kehidupan fana dimulai hingga waktu yang sudah diprogram untuk menempati mayapada ini.
Mulai dari masa-masa kecil yang disebut bayi, berkembang menjadi anak-anak, semakin berkembang menjadi remaja, dan masuk ke masa dewasa.
Dari usia dewasa ini biasanya manusia akan berkembangbiak untuk meneruskan keturunannya. Setelah itu mereka akan memasuki usia tua.

Begitupun dengan diriku.
Dulu aku terlahir dari rahim seorang ibu.
Ibu merawat dan membesarkanku hingga saatnya aku dewasa dan keluar dari pelukannya.
Saatnya aku menjadi diri sendiri dan memiliki keluarga baru.
Setelah aku memasuki masa berumah-tangga, akupun memiliki keturunan, buah dari bersatunya dua insan menjalin bahtera keluarga.
Sekarang tentunya status ibuku bertambah menjadi seorang yang dipanggil Nenek.
Ya, nenek bagi anakku.

Kini ia bercerita kepada dunia, betapa bahagianya ia merawat dan mendidik serta melatih anak-anaknya mulai dari bayi hingga kini anaknya dewasa.
Berawal dari manusia yang sangat lemah yang untuk menopang tubuhnya sendiri harus dibantu oleh ibu, hingga kini tenaga anak itu bahkan jauh lebih kuat untuk menjunjung tubuh ibunya ke atas kepala.
bahkan ada yang sampai hati membanting tubuh ringkih sang ibu.
Ia bercerita kepada dunia kalau saat anak-anaknya masih kecil,
mereka sangat lucu.
Berawal dari kegembiraan melihat sang anak mulai mencoba memmiringkan badannya dan bersusah payah mengangkat kepalanya hingga harus menunggu beberapa masa untuk sempurna menelungkupkan tubuhnya.
Dengan cerianya ia masuk kedalam kenangan ketika sang anak mulai mencoba menyeret tubuhnya untuk merayap menggapai benda yang ingin diraihnya.
Terus ia memasuki memori disaat sang anak mulai mencoba mengangkat bokongnya dan kembali beberapa masa berlalu hingga sang anak dapat menopang kakinya walau hanya merangkak yang dibantu oleh tangannya.
Ibu kembali larut dalam kenangan ketika sang anak belajar duduk dan mencoba mengangkat tubuhnya hingga berhasil tegak dengan sempurna.
Masa-masa itulah sang anak sangat lemah dan setiap mereka terjatuh, akan ada ibu yang memberikan tempat perlindungan dan menyemangatinya agar terus berusaha.
Setelah bisa berjalan, kembali ibu menjadi pahlawan untuk mengambilkan benda-benda yang tidak terjangkau oleh anaknya.
Ibu pula yang tak bosan-bosannya mengajarkan kata demi kata hingga saat ini kita bisa mengucapkan beribu juta kalimat.
Tentu saat ini ia hanya bisa mengingat masa-masa indah itu.

Kini ia sudah menjadi seorang tua.
Kondisi tubuh yang akan terus melemah menunggu masa peristirahatan.
Sekarang ini anak-anaknyalah yang menggantikan perannya sebagai orang tua.
Karena kini sang anak yang dulunya lemah, saat ini dalam masa puncak kekuatannya untuk mendidik sang penerus yang akan berdiri tegak menyusul masa tua yang sama seperti ibunya.
Begitupun sang cucu akan berkembang menjadi manusia yang akan melanjutkan perjalanan hidupnya seperti neneknya.

Kenapa hanya ibu? Tidakkah sang ayah punya andil membuat sang anak menjadi manusia?
Karena ayah tak sekuat ibu.
Ibulah yang merasakan secara langsung perkembangan anak berawal dari dalam perutnya.
Ibulah yang merasakan sakitnya mengeluarkan sang anak ke dunia.
Ibulah yang merelakan darahnya dihirup sang anak agar menjadi manusia yang sehat.
Ibu juga yang akan merawat sang anak saat ayah mencari nafkah.

Kini ibu hanya bisa bercerita kepada dunia.
Kini anak-anaknya menebar di muka bumi bersama keluarga barunya.
Kini ia hanya bisa mengingat masa-masa indah itu.

Ya, itulah perjalanan hidup manusia dari masa ke masa.
Kita sebagai manusia hanya tinggal menjalaninya saja.
Dalam perjalanan itu kita akan menemukan perasaan yang sama.
Menjadi seorang anak, kemudian menjadi orang tua, dan mungkin menjadi kakek dan nenek.

Kepada ibuku, walau sampai kapanpun kami takkan pernah bisa mengembalikan darahmu yang kami minum.
Secara fisik mungkin saat ini kami tentu lebih kuat darimu.
Tetapi dalam perjalanan hidup setelah di dunia ini, kami kembali bergantung kepadamu untuk menentukan kemana langkah akhir kami di hari penentuan kelak.

Engkaulah pintu surga yang saat ini tersedia di dunia.
Tetapi banyak manusia yang mengabaikan pintu surga yang nyata ini.
Begitupun kami anak-anakmu.
Maafkan kami anakmu yang tak bisa menghiasimu.
Yang tak mampu membersihkanmu dari debu-debu dunia.
Bahkan sering kali engkau terabaikan.
Hanya maafmulah yang akan menyelamatkan kami kelak.
Janganlah engkau terkunci disaat hari penentuan nanti.

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Pintu Surga yang Nyata"

Djacka Artub mengatakan...

Membaca artikel di atas, saya jadi kangen sama ibu. Ya, ibu yang telah merawat dan membesarkanku dengan kesabaran hingga aku menjadi manusia dewasa. Dan bahkan hingga kini aku pun telah memiliki keluarga sendiri.

Wan Zul Chairansyah S.Pd mengatakan...

Wah, ternyata jauh dari ibu juga ya mas?
Memang masa-masa kita sudah jadi orang tua seperti saat ini, tentunya mengingatkan kita pada pengorbanan ibu dan ayah sewaktu merawat kita dulu.